Ia Ingin Kembali Ke Barcelona, Klub Yang Dianggap Neymar Merupakan Lingkungan Terbaik Untuk Mengeluarkan Level Tertinggi Dalam Dirinya

BERITA RAKYAT – Neymar bakal dihadapkan dua pilihan, berusaha kembali terbang dan kembali menarik perhatian, atau malah terpuruk tenggelam. Neymar sudah menyuarakan keresahan di PSG sejak bursa transfer dimulai. Ia ingin kembali ke Barcelona, klub yang dianggap Neymar merupakan lingkungan terbaik untuk mengeluarkan level tertinggi dalam dirinya. Lionel Messi sudah memberi lampu hijau, Barcelona sudah bergerak, dan suporter Barcelona sudah membuka tangan lebar-lebar untuk menyambut Neymar kembali. Namun segala tawaran dan rayuan dari Barcelona akhirnya dimentahkan oleh PSG. PSG tak tergerak untuk melepas Neymar karena menganggap proposal yang ditawarkan Barcelona tidak menarik hati. Jendela transfer sudah ditutup, begitu pun peluang Neymar hengkang ke Barcelona, setidaknya hingga bursa transfer berikutnya.

Hal yang ada di hadapan Neymar adalah ia masih bakal berkostum PSG. Itu tidak bisa diubah. Kondisi Neymar bakal lebih parah karena keadaan-keadaan makin buruk dibandingkan sebelumnya usai pernyataan pembelotan Neymar di bursa transfer. Neymar bukan lagi anak kesayangan Nasser Al-Khelaifi. Padahal saat datang ke Paris, pemilik PSG tersebut mengistimewakan Neymar. Al-Khelaifi bahkan membela Neymar dalam beberapa insiden yang melibatkan pemain asal Brasil tersebut, termasuk saat berselisih dengan Edinson Cavani soal eksekutor bola mati. Suporter PSG tidak lagi berharap banyak padanya. Neymar bukan lagi idola utama di hadapan mereka. Ketidaksetiaan Neymar terhadap PSG adalah dosa besar.

Kehadiran Mauro Icardi juga jadi ancaman besar. Meski dari posisi kedua pemain berbeda, Icardi adalah striker kotak penalti sedangkan Neymar menyisir sisi lapangan, PSG seolah sudah bergerak untuk mencari bintang dan mesin gol baru. Belum lagi nama-nama lain yang jadi pengancam posisi Neymar seperti Julian Draxler, Angel Di Maria, hingga Kylian Mbappe. Tekanan-tekanan itu yang membuat Neymar mungkin bakal berada di posisi terburuk dalam kariernya sebagai pemain sepak bola. Neymar seperti seorang pendosa besar. Ia harus melakukan hal-hal spektakuler untuk menyucikan diri. Hadiah terbaik untuk melupakan dosa-dosa tersebut bukan hanya sekadar penampilan terbaik, tetapi berwujud nyata, trofi Liga Champions tepatnya. Trofi juara Liga Prancis tidak akan lagi jadi penawar dosa yang tepat karena PSG sudah terbiasa mendapatkannya, begitu pun trofi domestik lainnya.

Namun untuk bisa mewujudkan hal tersebut, Neymar terlebih dulu harus bisa menampilkan level terbaik dalam diri di tiap laga yang ia lakoni. Neymar harus bisa bermain penuh hingga akhir musim, sesuatu yang tak dapat ia lakukan dalam dua musim perdana di PSG. Neymar kini mulai dianggap rentan cedera sehingga ia harus hati-hati dalam menjaga kebugaran bila tak ingin kembali masuk daftar pemain yang cedera panjang. David de Gea di Manchester United bisa jadi contoh yang bagus untuk Neymar. Ia pernah ngotot pindah ke Real Madrid, gagal pindah, dimusuhi suporter, hingga akhirnya kembali mendapat tempat spesial di hati suporter. De Gea bahkan kini masih bertahan sebagai kiper nomor satu Manchester United dan menutup peluang pindah ke Real Madrid. Neymar akan langsung dimaafkan bila bisa membawa PSG juara Liga Champions, tampil produktif sebagai mesin gol, dan jadi motor utama permainan PSG. Namun mimpi besar itu harus diawali dengan melangkahi rintangan-rintangan kecil, mulai dari merebut kembali simpati pelatih Thomas Tuchel hingga unjuk gigi di lapangan tiap mendapat kepercayaan. Neymar harus bisa meletakkan fokus bahwa kebangkitan dirinya bukan semata untuk kemajuan PSG, melainkan untuk diri sendiri.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*